Sahabat
Oleh Andalusia Neneng.P
Banyak argument ataupun definisi mengenai sahabat. Banyak orang yang saya temui, dari orang-orang itu banyak pula terkumpul definisi sahabat: Sahabat adalah teman saat sedih dan susah. Sahabat adalah orang yang kita ingat pertama saat sedih. Sahabat adalah teman jalan, ngerumpi, diskusi, belajar, kerjain tugas, sekaligus teman bergaya. Semua yang saya sebutkan tadi, barulah sebagian kecil dari berbagai definisi sahabat di dunia ini. Tiba-tiba saja, saya tertarik untuk menulis mengenai sahabat, karena hari ini saya benar-benar mengerti arti kehilangan seorang sahabat. Saya punya dua orang sahabat. Yang satu, Rina, begitu cuek dan tomboy. Bicara ceplas-ceplos, pecicilan, hemat, tetapi hatinya lembut dan dewasa. Satu lagi, Anggi, orangnya begitu rapi, teliti, dan sangat perasa. Sedikit hatinya tergores, rasanya bagai dunia sudah hancur untuknya. Meski terlihat dewasa, sebenarnya dia sangat kekanak-kanakan. Keduanya memberi warna tersendiri dalam hari-hari saya. Dua sisi berbeda yang mengapit saya, membuat saya seakan dapat melihat dunia dari cermin kecil yang tercipta dari diri dua sahabat saya. Bagaimana saya harus bersikap terhadap orang yang berperangai keras dan cuek, itu saya pelajari dari Rina. Lalu, bagaimana saya harus menjaga ucapan dan tingkah laku pada karakter orang yang perasa dan lembut, itu saya dapat dari Anggi.
Semua berjalan lancar dan begitu indah. Seminar-seminar sastra kerap kami ikuti bersama. Beli baju atau buku kami pun lakukan bersama. Meski, terkadang ada riak yang timbul, itu tidak seperti yang terjadi pada saat pergantian semester kemarin. Yah…semua berawal dari sini. Ketika, kami tidak dapat sama-sama mengontrak sks dengan jumlah yang sama. Anggi yang begitu takut untuk sendirian, enggan jika dia harus tertinggal beberapa sks dari saya dan Rina. Anggi tidak mau kalau matakuliah yang belum dikontraknya, tidak bersama-sama kami. Seharusnya, saya sebagai teman bisa memberikan penenangan kepada Anggi akan semua ini. Tapi, saya malah kesal dan menghindarinya. Karena itulah, dalam satu semester ini Anggi sama sekali tidak kuliah. Awalnya saya merasa tidak begitu kehilangan. Tapi, selanjutnya setiap kali melihat hal yang mengingatkan pada sosok Anggi, barulah saya tahu, saya membutuhkannya. Membutuhkan bukan berarti saya hendak memperalat. Tetapi, membutuhkan di sini karena Anggi adalah pernik yang Allah ciptakan untuk saya dalam hidup ini. Satu saja hilang pernik yang Allah ciptakan, manusia mana pun akan sangat kehilangan. Satu semester yang begitu hampa dan kosong. Itu pula mungkin yang dirasakan Rina, meski jarang sekali kami membahas tentang ini. Biasanya saat kami kontra dengan Dosen, tidak hanya aku dan Rina, tapi ada Anggi di samping kami. Saat kami, kontra dengan peraturan kampus yang memuakkan, Anggi juga ada bersama kami. Segalanya membuat saya tahu bahwa saya membutuhkannya. Semua usaha telah kami coba. Menelepon, sms, tapi sayang semua nihil dan tidak berbuah. Anggi pergi ke Bekasi. Dalam hati, saya berharap, Anggi akan datang lagi untuk saya dan Rina. Awalnya saya pikir semua usaha saya tidak akan ada hasilnya. Ternyata, memang benar Anggi telah Allah ciptakan untuk jadi pernik dalam hidup saya. Hari ini, Anggi sms menanyakan kabar saya dan meminta saya bercerita tentang kampus. Hai, pa kabar? Ni no Anggi yang baru, aneh ya kok kita bisa kompakan ganti M3 (jadi malu). Kata mama waktu itu kamu nelpon ya, Anggi dan sms kamu, ternyata no-nya dah ganti (pantesan gak dibalas). Gimana kampus, rame gak? Anggi gak marah kok ma kamu, Cuma emang Anggi lagi suntuk dan gak ada gairah untuk kuliah…
Entahlah, rasanya senang sekali menerima sebaris kata-kata sederhana dari sahabatku ini. Beribu syukur kuucapkan padaMu Ya Allah, terimakasih Kau kembalikan lagi sahabat terbaikku. Langsung kutelpon Anggi, dan bertambah syukurku, nampaknya dia bertambah dewasa. Mungkin, ini memang rahasia dan rencana Allah yang begitu indah. Dengan adanya moment seperti ini, untuk melatih dan menguji saya sebagai sahabat, sejauh mana saya dapat bersabar dan solider terhadap teman. Dengan ini pula Allah telah melatih Anggi untuk bersikap dewasa. Teman, memang perlu banyak. Tapi, sahabat berapa ribu pun yang kita kumpulkan, kala kita tak mampu menjaganya itu hanya tindakan percuma dan sia-sia. Pada akhirnya, sahabat adalah sesuatu yang tanpa kita sadari telah Sang Digdaya ciptakan untuk kita. Seperti yang Rasulullah ucapkan, sahabat itu seperti bintang, dia senantiasa dapat menjadi petunjuk untukmu. Anggi dan Rina memang tidak seperti para sahabat Nabi, tapi bagi saya mereka pun adalah bintang. Bintang yang sengaja Allah ciptakan untuk malam-malamku. Yang dapat menjadi petunjuk dalam sebagian kecil hidupku. Bagiku, sahabat bukan hanya teman bergaya, diskusi, ngobrol, tempat mengadu suka atau duka. Tapi, sahabat adalah diriku sendiri. Saat kulukai hatinya, tanpa sadar hatiku pun ikut tersayat. Karena, memang sahabat adalah sebagian dari diri kita yang telah Allah ciptakan. ~untuk Anggi dan Rina~