“Ini resiko sekolah…”Oleh Andalusia Neneng P
Jika aku tidak mengantarkan sahabatku pada hari itu, mungkin aku tidak akan pernah tahu jika ketidakadilan masih ada di dunia ini. Masih ada di dunia pendidikan. Masih bisa dilakukan oleh seorang pendidik. Kelas mulai sepi, pertanda jam kuliah telah habis. Satu persatu mahasiswa pergi beranjak keluar. Terlihat, ada wajah bahagia yang seolah merasa kembali mendapat kebebasan. Ada juga wajah dengan kening berkerut, mungkin masih banyak hal yang tidak sesuai dengan pikiran dan nalarnya, tapi apa mau dikata mahasiswa apa pun gelar kehormatannya, momok nilai E tetap menjadi symbol menakutkan. Kulihat, ada juga satu atau dua orang mahasiswa yang mendekati dosen, entah apa yang dilakukan.
Temanku mendekati, dan meminta janjiku untuk menemaninya menemui Dosen. Kubereskan buku-buku ke dalam tas. Dari tadi, aku memang tidak mendengarkan bahkan tidak mengikuti suasana diskusi kelas. Aku sibuk dengan buku-buku yang baru kubeli. Entahlah sifat introvert dan senang sepiku, mungkin sedang menguasaiku. Kulihat dosen tua itu pun sedang ngobrol dengan salah seorang temanku juga. Obrolan yang menunjukkan kedekatan. Apa peduliku? Pikirku. Kutarik tangan temanku untuk sekedar menguatkan dan menyuruhnya untuk kuat dan tetap tegas. Melihat kedatanganku dan temanku, dosen itu menyudahi obrolan yang membuat salah seorang temanku itu merasa memiliki masa depan cerah (dengan link untuk menjadi dosen).
Dosen perempuan itu membetulkan kacamatanya. Dan bertanya,
“Ada apa?”Aku memulai sebuah percakapan ini, dengan menjawabnya, “Saya mau bicara masalah keberangkatan penelitian kita ke Banten itu…”
Kusikut tangan temanku, agar dia sekarang yang berbicara.
“Bu, saya tidak bisa ikut. Saya tidak punya biaya untuk pergi. Kalau boleh, saya minta daerah alternatif …
“Tidak bisa, penelitian ini sudah menjadi perjanjian bersama. Tidak bisa!!” Potong dosen tua itu.
“Tapi Bu, saya sudah mandeg untuk soal biaya ini…” Kulihat mata temanku mulai berkaca-kaca.Melihat mata yang mulai memerah dan hendak menitikkan tetesan air, dosen itu dengan tegas dan mantap mengatakan satu kata yang sampai kapan pun akan terngiang di telingaku.
“Ini resiko sekolah…”
Tubuh tambunnya mulai beranjak dari kursi meninggalkan kami berdua. Temanku mengejarnya.
“Bu, saya kan rajin kuliah, saya ikut UTS, jadi tidak ada alasan untuk tidak lulus dalam matakuliah ini…”
Tapi, tetap dosen itu tidak mau kalah…
“Ini sudah perjanjian bersama…” (dia sudah tak punya jawaban lagi!!) Tutur halus dan sopan pun berubah menjadi sebuah permohonan yang bagiku sangat mengganggu. Ingin aku larang temanku untuk menghamba pada dosen itu. Tapi, aku sendiri hanya terpaku tak berdaya.
“Bu, masa saya harus menerangkan keadaan keluarga saya…”
Lagi-lagi, untuk masalah ini, dosen itu berkata:
“INI RESIKO SEKOLAH!!”
Tangis tak dapat dibendung. Seribu serampah keluar dari mulut temanku. Kulihat tubuh tambun yang menjauh dengan pongah itu dengan hati dan pikiran yang berkecamuk. Kurangkul temanku, dengan harapan agar dia tenang. “Ini sama aja, dia bilang aku miskin…”
Di tengah-tengah tangisannya, temanku berkata seperti itu. Aku tak mampu berkata apa pun. Aku merasakan apa yang dirasakannya. Aku mengerti kesusahannya. Hanya saja, aku merasa bahwa dosen tua itu seolah mengatakan “jangan jadi anak manja…”padaku dan temanku. Temanku bukan anak manja yang menuntut segala hal. Dia perempuan kuat yang begitu arif menyikapi keadaan keluarganya. Tanpa gengsi dan malu, dia sering berjualan nasi kuning dan gorengan di kampus. Karena itulah, aku hanya duduk dan memeluknya erat. Aku tak mampu berkata apa pun selain kuucapkan “sabar…sabar”. Kutawarkan jasaku untuknya, menawari bantuan yang tak perlu dibayarnya. Temanku menolaknya.
“Aku sudah terlanjur sakit hati. Aku berhak punya sikap untuk semua ini. Konsekuensi apa pun aku terima, sampai harus tidak lulus sekalipun untuk mata kuliah ini. Kalau aku tidak mencoba seperti ini, aku yakin aku pasti bakal menyesal.” Resiko sekolah? Seperti apa resiko sekolah itu Tuhan? Apakah resiko sekolah adalah menyakiti perasaan manusia lain? Menguras keringat orangtua? Penelitian yang sama sekali tidak berarti apa-apa, bahkan untuk kehidupan sekalipun? Apa wujud konkret dari resiko sekolah itu? Perkataan dosen itu terngiang-ngiang terus di telingaku.
Akhirnya, aku tetap ikut penelitian ke Banten itu. Temanku tetap pada pendiriannya. Aku coba untuk menikmati keramaian yang membuatku jengah dan tersiksa. Aku benci muka-muka tak punya hati ini. Tak tahukah mereka, bahwa ada beberapa teman lain yang menangis dan tidak dapat mengikuti penelitian ini? Akhirnya perjalanan ke Banten hanya berupa ajang membuang uang percuma. Penelitian hanya diberi batas 4 jam. Esoknya tak ada penelitian, yang ada adalah bermain air di laut seperti sekumpulan ikan teri yang bodoh. Apa yang kulakukan di sini Tuhan? Itu pikirku. Membuang uang orangtuaku kah? Membuang waktuku kah?
Lagi-lagi, terngiang “ini resiko sekolah…”. Inikah resiko sekolah? Piknik dengan dalih penelitian? Seribu harapan digantungkan sebelum keberangkatan. Berharap hasil penelitian dapat dibukukan dan diterbitkan oleh Balai Bahasa. Apa yang mau ditulis? Dialek tak akan terkumpul dalam waktu 4 jam. Mungkin, jika kita harus menulis karangan “Piknik ke Anyer”, akan menghasilkan puluhan paragraph. Ya…mungkin akan banyak hal yang bisa kutulis. Dimulai dari sikap pongah dan takabur seorang dosen, tangisan temanku, sampai sebaris kalimat INI RESIKO SEKOLAH.
Ps. Bu…bacalah buku Orang Miskin Dilarang Sekolah.